Saat itu aku benar-benar tidak mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan.
Aku nyaris tidak bisa membedakan hangatnya selimut dan dinginnya lantai kamar. Semua terasa sama.
Aku benar-benar ingin sendiri saat itu, tak kuperdulikan pandangan semua orang terhadapku.
Aku hanya ingin sendiri, kulangkahkan kakiku keluar rumah, entah kemana tujuanku juga tidak kuketahui…kemana saja langkahku membawaku..aku sudah tidak perduli. Karena saat itu semua bagaikan mimpi buruk. Semua hilang, yang tertinggal hanya kepahitan menyakitkan.
Hanya hal-hal sedih yang terpikir olehku saat itu, air mataku mulai merebak kembali, hatiku benar-benar terluka. Aku berharap saat itu juga aku bisa kehilangan kesadaranku agar aku bisa beristirahat sejenak dari kepedihan dan kesakitan, tapi ternyata aku masih cukup sadar…ya..aku benar-benar sadar.
Aku tak ingin lebih lama lagi terpuruk ditempat ini, terpuruk oleh perasaan tersiksa…tersiksa karena mimpi-mimpi burukku, tersiksa karena kehilangan, tersiksa oleh perhatian-perhatian seseorang yang tidak aku inginkan.
Hari Kamis, menjadi hari yang begitu cepat terlewat, karena aku terfokus untuk esok hari. Hari yang akan membawaku terbang kerumah orang tuaku. Namun hari itu tidak berlangsung semulus yang kuinginkan. Karena tetap saja ada mimpi buruk dan tangisan di malam hari karena sebuah kebodohanku yang masih merindukannya dan ingin mendengar suaranya.
Kabut tebal masih saja mengaburkan hatiku yang kugunakan untuk melewati hari-hariku yang semakin membingungkan.
Aku sudah tidak ingat lagi seperti apa perjalanan pulangku, tapi aku bersyukur karena waktuku bisa berjalan sangat cepat tanpa merasakan hari itu. Aku tidak perlu melawan kabut yang menyelubungi pikiranku.
Desember..
Januari…
Februari…
Maret…
April…
Mei…
Juni…
Waktu terus berlalu, disaat semua terasa berhenti dan mustahil berlanjut ternyata waktu masih saja terus berjalan.
Disetiap detik-detik waktu yang terasa menyakitkan bak denyutan nadi didalam tubuhku yang memar. Waktu terus berjalan, bak anak kecil yang merengek untuk dibelikan mainan..terus merengek, meskipun sang ibu menyeretnya untuk pergi..terseret-seret, tapi waktu terus saja berjalan.
Bersusah payah aku menata serpihan-serpihan hatiku yang hancur, merekatkannya kembali satu persatu seperti puzzle yang hancur berantakan.
Saat semua sudah mungkin…ternyata aku belum cukup kuat merekatkannya, karena puzzle itu kembali berantakan saat aku teringat wajahnya, suara tawanya, mendengar kabarnya dari sahabatnya, membuat aku sangat tersiksa. Mengapa kepedihan ini terus saja hadir dan masih saja terus memperbesar lubang yang ada di hatiku.
Aku merasa sangat tolol karena percaya akan janji-janjinya, janji yang dilanggar setelah ia membuatnya… sedang aku terus saja menunggunya datang untuk menepati janjinya.
Meski aku telah berjuang sangat keras untuk tidak memikirkannya, tetapi ternyata aku mengingkari untuk berjuang melupakannya.
Dia yang mengenalkanku dengan cinta, ketulusan, kepercayaandan kerelaan berkorban. Dia juga yang memperkenalkanku dengan rasa sakit, kekecewaan, kebohongan dan pengkhianatan.
Aku ingin mencoba melanjutkan hidupku dengan memulai yang baru.. tapi disaat aku ingin memulainya.. di saat itu pula lubang di hatiku kembali berdarah.
Ya..Allah mengapa tidak kau jawab doa-doa dalam sholat malamku..mengapa tak Kau enyahkan dia dari pikiranku..dan berikan aku sebuah keikhlasan..